Menuju Hati yang “Ikhlas”

17 06 2010

Setiap hari kita selalu dihadapkan pada situasi dimana kita diuji untuk meluruskan niat “untuk siapa sebenarnya kita melakukan sesuatu?”. Untuk manusia-kah atau untuk Tuhan-kah??

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, berikut beberapa ayat Allah yang mengantarkan kita pada jawaban untuk pertanyaan tersebut.

Dalam kehidupan kita di dunia, ada dua hubungan (ikatan) yang harus kita jaga dengan baik, yaitu hubungan (ikatan) kita dengan Allah (hablum minallah) dan hubungan (ikatan) kita dengan sesama manusia (hablum minannas).

Allah SWT berfirman:
“Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali dengan hablimminallah dan hablimminannas, dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah dan mereka diliputi kerendahan. Yang demikian itu karena mereka kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa alasan yang benar. Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan melampaui batas”(Q.S. Ali ‘Imran : 112)

Pada ayat tersebut terbaca jelas bahwa hablumminallah dan hablumminannas, adalah satu paket kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Tetapi apakah ada yang seharusnya didahulukan??

TENTU…terlihat jelas pada ayat tersebut bahwa Hablum minallah didahulukan daripada hablum minannaas. Hal ini menunjukan bahwa hubungan (ikatan) kita kepada Allah lebih diutamakan sebelum menjadi hubungan (ikatan) kita kepada sesama manusia.

Firman Allah SWT:
“Katakanlah: “jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik”. (Q.S. At Taubah ayat 24)

Pada ayat tersebut terlihat jelas pula bahwa urutan cinta atau hubungan yang harus kita nomorsatukan adalah kepada (1) Allah, kemudian kepada sesama manusia; (2) Rasul, (3) Jihad di jalan Allah, (4) Bapak, (5) Anak, (6) Saudara, (7) Istri, (8) Harta, (9) Perniagaan, dan (10) Tempat tinggal .

Firman Allah berikut ini juga jelas menyampaikan bahwa hubungan (ikatan = keimanan) kepada Allah harus didahulukan sebelum hubungan (ikatan = keimanan) kepada yang lainnya, termasuk kepada malaikat, kitab, nabi, sesama manusia, dst. Kembali, bahwa ayat Allah ini menunjukkan hubungan dengan Allah adalah nomor satu.

“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa”. (Q.S. Al Baqarah 177)

Jadi, kembali kepada pertanyaan di awal “untuk siapa sebenarnya kita melakukan sesuatu?”…Jawabnya adalah yang utama dan pertama adalah untuk Allah semata….Allah nomor satu…

Menuju ke level Ikhlas…tentunya kita perlu pahami terlebih dahulu secara mendalam makna Ikhlas…dan mudah-mudahan kita bisa mencapai level Ikhlas tersebut…Amin YRA.

Ikhlas
Ikhlas, dari kata Khalash, artinya bersih atau murni.
Secara istilah kemudin Ikh1as diartikan sebagai membersihkan hati dari maksud selain mengharapkan ridho Allah Azza wa Jalla.

Memiliki hati yang bersih adalah memiliki hati yang penuh dengan rasa ikhlas.

Ikhlas adalah amalan hati yang memiliki posisi paling depan dibandingkan dengan amalan-amalan hati yang lain, karena amal seseorang tidak bisa diterima sempurna kecuali dengan adanya keberadaan Ikhlas.

Dalam hadits riwayat Abu Hurairah, Nabi SAW bersabda,
“Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada jasad dan rupa kalian, tetapi Dia melihat kepada hati kalian (niat dan keikhlasan”. (HR Muslim).

Allah hanya menginginkan hakikat amal, bukan rupa dan bentuknya. Maka Allah akan menolak setiap amal yang pelakunya tertipu dengan amalya.

Allah SWT befirman:
“pada hari (ketika), lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan”. (QS. An Nur; 24)

“Di hari itu, Allah akan memberi mereka balasan yag setimpal menurut semestinya, dan tahulah mereka bahwa Allah-lah yang Benar, lagi Yang menjelaskan (segala sesutatu menurut hakikat yang sebenarnya). (QS. An Nur; 24)

“Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (Al-An’am: 162).
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus.” (Q.S. Al-Bayyinah: 5)

Rasulullah saw. bersabda,
“Sesungguhnya Allah tidak menerima amal kecuali dilakukan dengan ikhlas dan mengharap ridha-Nya.”

Jadi,….untuk menuju ikhlas mari kita membersihkan hati, apapun yang kita lakukan luruskan maksud kita hanya untuk mengharapkan ridho Allah Azza wa Jalla.

Jauhilah RIYA,
karena orang yang riya pasti akan mendapat hukuman dari Allah swt. Setiap orang yang telah melakukan amal-amal terbaik mereka, entah itu menjadi ustadz, mujahid, atau orang yang senantiasa berinfak, semuanya akan dimasukkan ke dalam neraka karena amal mereka tidak ikhlas kepada Allah.

Rasulullah saw. Bersabda:
“Siapa yang menuntut ilmu, dan tidak menuntutnya kecuali untuk mendapatkan perhiasan dunia, maka ia tidak akan mendapatkan wangi-wangi surga di hari akhir.” (HR Abu Dawud)

RIYA itu sendiri adalah perbuatan yang dilakukan seorang muslim untuk memperlihatkan amalnya pada manusia lain dengan harapan mendapat pujian, posisi, kedudukan, dan segala bentuk keduniaan lainnya.

RIYA termasuk sifat atau ciri khas orang-orang yang munafik.

Firman Allah:
“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat itu) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.” (Q.S. An-Nisaa:142).

RIYA juga termasuk salah satu cabang dari kemusyrikan.

Rasulullah saw. bersabda,
“Sesungguhnya yang paling aku takuti pada kalian adalah syirik kecil.”
Sahabat bertanya, “Apa itu syirik kecil, wahai Rasulullah?”
Rasulullah saw. menjawab, “Riya. Allah berkata di hari kiamat ketika membalas amal-amal hamba-Nya, ‘Pergilah pada yang kamu berbuat riya di dunia dan perhatikanlah, apakah kamu mendapatkan balasannya?’”
(HR Ahmad).

Wallahualam bishawab…kebenaran hanya milik Allah, manusia gudangnya salah dan lupa.

Mudah-mudahan kita bisa menuju hati yang ikhlas…memiliki hati yang bersih hanya untuk mendapatkan ridho Allah semata…dan dijauhkan dari sifat RIYA…Allahuma Amin.


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: