“Bermesraan” ala Rasulullah

19 05 2011

Bermesraan, itulah yang membuat hubungan suami-istri terasa indah dan nikmat. Caranya?

Dalam berkomunikasi, ada dua jenis lambang yang bisa dipergunakan, yaitu lambang verbal dan lambang non verbal. Menurut penelitian Profesor Birdwhistell, maka nilai efektifitas lambang verbal dibanding non verbal adalah 35:65. Jadi, justru lambang non verbal yang lebih efektif dalam menyampaikan pesan.

Bermesraan, adalah upaya suami istri untuk menunjukkan saling kasih
sayang dalam bentuk verbal. Sentuhan tangan dan gerak tubuh lainnya,
adalah termasuk lambang non verbal ketika suami berkomunikasi dengan
istrinya.

Komunikasi verbal semata belumlah efektif jika belum disertai oleh
komunikasi non verbal, dalam bentuk kemesraan tersebut.
Rasulullah saw pun merasakan pentingnya bermesraan dengan istri,
sehingga beliau pun mempraktek kannya untuk menghias hari-hari dalam
keluarganya, yang tecermin seperti dalam hadis-hadis berikut:

1. Tidur dalam satu selimut bersama istri
Dari Atha’ bin Yasar: “Sesungguhnya Rasulullah saw dan ‘Aisyah ra biasa mandi bersama dalam satu bejana. Ketika beliau sedang berada dalam satu selimut dengan ‘Aisyah, tiba-tiba ‘Aisyah bangkit. Beliau
kemudian bertanya, ‘Mengapa engkau bangkit?’ Jawabnya, ‘Karena saya
haidh, wahai Rasulullah.’ Sabdanya, ‘Kalau begitu, pergilah, lalu berkainlah dan dekatlah kembali kepadaku.’ Aku pun masuk, lalu
berselimut bersama beliau.” (HR Sa’id bin Manshur)

2. Memberi wangi-wangian pada auratnya
‘Aisyah berkata, “Sesungguhnya Nabi saw apabila meminyaki badannya,
beliau memulai dari auratnya dan mengolesinya dengan nurah (sejenis
bubuk pewangi), dan istrinya meminyaki bagian lain seluruh tubuhnya. (HR Ibnu Majah)

3. Mandi bersama istri
Dari ‘Aisyah ra, ia berkata, “Aku biasa mandi bersama dengan Nabi saw
dengan satu bejana. Kami biasa bersama-sama memasukkan tangan kami (ke dalam bejana).” (HR ‘Abdurrazaq dan Ibnu Abu Syaibah)

4. Disisir istri
Dari ‘Aisyah ra, ia berkata, “Saya biasa menyisir rambut Rasulullah saw, saat itu saya sedang haidh”.(HR Ahmad)

5. Meminta istri meminyaki badannya
Dari ‘Aisyah ra, ia berkata, “Saya meminyaki badan Rasulullah saw pada
hari raya ‘Idul Adh-ha setelah beliau melakukan jumrah ‘aqabah.” (HR
Ibnu ‘Asakir)

6. Minum bergantian pada tempat yang sama
Dari ‘Aisyah ra, dia berkata, “Saya biasa minum dari muk yang sama
ketika haidh, lalu Nabi mengambil muk tersebut dan meletakkan mulutnya di tempat saya meletakkan mulut saya, lalu beliau minum, kemudian saya mengambil muk, lalu saya menghirup isinya, kemudian beliau mengambilnya
dari saya, lalu beliau meletakkan mulutnya pada tempat saya meletakkan mulut saya, lalu beliau pun menghirupnya.” (HR ‘Abdurrazaq dan Sa’id bin Manshur)

7. Membelai istri
“Adalah Rasulullah saw tidaklah setiap hari melainkan beliau mesti
mengelilingi kami semua (istrinya) seorang demi seorang. Beliau menghampiri dan membelai kami dengan tidak mencampuri hingga beliau
singgah ke tempat istri yang beliau giliri waktunya, lalu beliau bermalam di tempatnya.” (HR Ahmad)

8. Mencium istri
Dari ‘Aisyah ra, bahwa Nabi saw biasa mencium istrinya setelah wudhu’,
kemudian beliau shalat dan tidak mengulangi wudhu’nya.”(HR. ‘Abdurrazaq)
Dari Hafshah, putri ‘Umar ra, “Sesungguhnya Rasulullah saw biasa mencium istrinya sekalipun sedang puasa.” (HR Ahmad).

9. Tiduran di Pangkuan Istri
Dari ‘Aisyah ra, ia berkata, “Nabi saw biasa meletakkan kepalanya di
pangkuanku walaupun aku sedang haidh, kemudian beliau membaca
al-Qur’an.” (HR ‘Abdurrazaq)

10. Memanggil dengan kata-kata mesra
Rasulullah saw biasa memanggil Aisyah dengan beberapa nama panggilan yang disukainya, seperti ‘Aisy, dan Humaira (pipi merah delima).

11. Mendinginkan kemarahan istri dengan mesra
Nabi saw biasa memijit hidung ‘Aisyah jika ia marah dan beliau berkata,
“Wahai ‘Uwaisy, bacalah do’a: ‘Wahai Tuhanku, Tuhan Muhammad, ampunilah dosa-dosaku, hilangkanlah kekerasan hatiku, dan
lindungilah diriku dari fitnah yang menyesatkan.” (HR Ibnu Sunni)

12. Membersihkan tetesan darah haidh istri
Dari ‘Aisyah ra, ia berkata, “Aku pernah tidur bersama Rasulullah saw di
atas satu tikar ketika aku sedang haidh. Bila darahku menetes ke tikar
itu, beliau mencucinya di bagian yang terkena tetesan darah dan beliau
tidak berpindah dari tempat itu, kemudian beliau shalat di tempat itu
pula, lalu beliau berbaring kembali di sisiku. Bila darahku menetes lagi
ke tikar itu, beliau mencuci di bagian yang terkena darah itu saja dan
tidak berpindah dari tempat itu, kemudia beliau pun shalat di atas tikar
itu.” (HR Nasa’i)

13. Bermesraan walau istri haidh
Dari ‘Aisyah ra, ia berkata, “Saya biasa mandi bersama Rasulullah saw
dengan satu bejana, padahal kami sama-sama dalam keadaan junub. Aku biasa menyisir rambut Rasulullah ketika beliau menjalani i’tikaf di
masjid dan saya sedang haidh. Beliau biasa menyuruh saya menggunakan kain ketika saya sedang haidh, lalu beliau bermesraan dengan saya.” (HR.‘Abdurrazaq dan Ibnu Abi Syaibah)

14. Memberikan hadiah
Dari Ummu Kaltsum binti Abu Salamah, ia berkata, “Ketika Nabi saw
menikah dengan Ummu Salamah, beliau bersabda kepadanya, ‘Sesungguhnya aku pernah hendak memberi hadiah kepada Raja Najasyi sebuah pakaian berenda dan beberapa botol minyak kasturi, namun aku mengetahui ternyata Raja Najasyi telah meninggal dunia dan aku mengira hadiah itu akan dikembalikan. Jika hadiah itu memang dikembalikan kepadaku, aku akan memberikannya kepadamu.”
Ia (Ummu Kultsum) berkata, “Ternyata keadaan Raja Najasyi seperti yang disabdakan Rasulullah saw, dan hadiah tersebut dikembalikan kepada beliau, lalu beliau memberikan kepada masing-masing istrinya satu botol minyak kasturi, sedang sisa minyak kasturi dan pakaian tersebut beliau berikan kepada Ummu Salamah.” (HR Ahmad)

15. Segera menemui istri jika tergoda
Dari Jabir, “Sesungguhnya Nabi saw pernah melihat wanita, lalu beliau
masuk ke tempat Zainab, lalu beliau tumpahkan keinginan beliau kepadanya, lalu keluar dan bersabda, “Wanita, kalau menghadap, ia
menghadap dalam rupa setan….Bila seseorang di antara kamu melihat
seorang wanita yang menarik, hendaklah ia datangi istrinya, karena pada diri istrinya ada hal yang sama dengan yang ada pada wanita itu.” (HR. Tirmidzi)

Begitu indahnya kemesraan Rasulullah saw kepada para istrinya, memberikan gambaran betapa Islam sangat mementingkan komunikasi non verbal ini, karena bahasa tubuh ini akan lebih efektif menyatakan cinta dan kasih sayang antara suami istri.

Nah, silakan mencoba…

Dikutip dari : Hidayatullah Indriyani A.S


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: